ASPEK SOSIAL EKONOMI DALAM PEMANFAATAN PELABUHAN PERIKANAN

 

         Pelabuhan perikanan suatu wilayah  yang merupakan daerah terjadinya kontak antara dua bidang sirkulasi transpor berbeda yaitu sirkulasi transpor darat dan sirkulasi transpor maritim dimana peranan pelabuhan adalah untuk menjamin kelanjutan dari skema transpor yang berhubungan dengan dua bidang tersebut. Keberhasilan dan pengembangan pelabuhan perikanan serta optimalisasi dalam operasionalnya merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan dari pembangunan pelabuhan perikanan tersebut. Namun demikian, pada dasarnya kegiatan pembangunan pelabuhan termasuk pelabuhan perikanan yang telah dilakukan diharapkan dapat memberikan dampak secara fisik yang berupa ancaman terhadap kerusakan ekologi baik berupa kerusakan lahan, biologi, maupun pencemaran. Kemudian, seperti umumnya pada setiap kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan terjadi pula dampak sosial baik sosial maupun ekonomi, baik yang bersifat positif maupun negatif (Suratmo, 1998).

          Pemanfatan yang dilaksanakan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sekaligus menunjang kehidupan ekonomi  nelayan dan masyarakat setempat antara lain adalah pembangunan pelabuhan seperti yang telah dilakukan dibeberapa wilayah kabupaten di Propinsi Lampung. Pembangunan pelabuhan perikanan berfungsi dalam pelayanan jasa dibidang perikanan termasuk docking, pengolahan ikan, sandar kapal dan pengadaan sarana penangkapan ikan (Direktorat Jenderal Perikanan, 1994). Dampak kegiatan pembangunan yang positif sangat diharapkan terutama terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah pelaksanaan kegiatan pembangunan tersebut. Namun demikian, dampak negatif yang sebenarnya tidak diharapkan dapat berakibat terhadap masyarakat sekitar itu pula (Setiadi, 1996). Dampak tersebut dapat dikemukakan melalui nilai-nilai kuantitatif pada beberapa parameter tertentu yang penting untuk menunjukkan kualitas lingkungan baik secara fisik maupun sosial dan ekonomi seperti pendapatan masyarakat (Oamopilii, 1996).

          Pembangunan yang dilakukan secara terus menerus mempunyai maksud mengembangkan yang telah dilakukan sebelumnya sering disebut sebagai pengembangan (Improvement). Pengembangan pelabuhan perikanan dapat berupa penambahan fasilitas pelabuhan, jenis, tipe pelabuhan dan pengelolaannya untuk mencapai tujuan pelabuhan perikanan yang optimal. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa, pelabuhan perikanan mempunyai peranan penting yang meliputi 3 aspek (Direktorat Jenderal Perikanan, 1994), yaitu (a) menunjang pembangunan dan pengembangan ekonomi nasional maupun regional, (b) menunjang pembangunan dan pengembangan industri baik hulu maupun hilir, dan (c) membangun masyarakat (perikanan) di sekitar pelabuhan perikanan sehingga menjadi lebih kreatif dan dinamis.

          Pembangunan dan pegembangan pelabuhan perikanan yang telah dilakukan di wilayah pesisir Lampung (seperti di Lempasing – Teluk Lampung, Bandar Lampung) merupakan salah satu aktivitas pemanfaatan wilayah pesisir Lampung yang cukup signifikan di dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terutama bagi masyarakal nelayan. Sebagaimana aktivitas ekonomi lainnya, pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan di Lempasing, Bandar Lampung seyogyanya akan memberikan manfaat positif terhadap kelangsungan sosial ekonomi masyarakat terutama dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Sejauh ini, bagaimana dampak pembangunan pelabuhan perikanan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya terutama di Lempasing, Bandar Lampung, belum perrnah dilakukan. Padahal aspek sosial dan ekonomi merupakan pokok bahasan yang penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan sebagaimana dikemukakan oleh Soemarwoto (1997) dan Hadi (1997).

 

          Penelitian ini bertujuan  untuk  

  • mengetahui dan menganalisis dampak pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Lempasing, Bandar Lampung terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian akan diketahui kelompok masyarakat yang utama mendapatkan manfaat dari adanya pembangungan pelabuhan perikanan di Lempasing, Bandar Lampung.

          Manfaat

          Manfaat yang diperoleh dari pembahasan ini yaitu untuk mengetahui informasi tentang kesejahteraan nelayan dan masyarakat sekitar  pelabuhan perikanan di Lempasing, Bandar Lampung, baik dari aspek sosial maupun perekonomian nelayan dan masyarak sekitarnya.

 

  Pelabuhan perikanan

          Pelabuhan perikanan adalah tempat dimana bertemunya daratan dan perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, mengisi pembekalan dan bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan ( UU Perikanan N0. 31 Tahun 2004 ).

          Menurut Viragie (1979), Pelabuhan perikanan sebagai suatu wilayah  yang merupakan daerah terjadinya kontak antara dua bidang sirkulasi transpor berbeda yaitu sirkulasi transpor darat dan sirkulasi transpor maritim dimana peranan pelabuhan adalah untuk menjamin kelanjutan dari skema transpor yang berhubungan dengan dua bidang tersebut.

  Klarifikasi Pelabuhan Perikanan

          Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan N0.16/MEN/2006 Pelabuhan Perikanan dibagi menjadi 4 tipe yaitu :

  • Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS)
  • Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
  • Pelabuhan Perikanan Pantai (PPN)
  • Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI)

          Pelabuhan tersebut dikatagorikan menurut kapasitas dan kemampuan masing-masing katagori pelabuhan untuk menanggani kapal yang datangdan pergi serta letak dan posisi pelabuhan.

          Adapun kriteria pelabuhan perikanan pantai yaitu menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor :PER 16/MEN/2006 antara lain :

1).  Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan diwilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, dan wilayah ZEEI.

2).  Memiliki kapasitas tambat labuh 10 GT dan mampu menampung kapal sebanyak 30 kapal (300GT)

3).  Panjang dermaga sekitar 100 m dengan kedalaman kolam -2 m.

4).  Memiliki lahan seluas 5-15 ha.

Manfaat Pelabuhan Perikanan

Pembangunan pelabuhan perikanan bertujuan untuk membangun masyarakat pesisir guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, khususnya masyarakat ·nelayan. Kemudian, upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia bidang perikanan haruslah dilihat sebagai bagian yang integral dari pembangunan sub-sektor perikanan secara keseluruhan (Nasoetion dan Rustiadi,1993). Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa suatu hal- yang perlu diperhatikan adalah tentang tertumpuknya tenaga kerja sub-sektor perikanan pada jabatan perburuhan merupakan kendala untuk dapat dilaksanakannya diversifikasi dan perluasan usaha. Hal ini berarti pelabuhan perikananakan memberikan dampak pada aspek sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar pelabuhan perikanan.      

          Guna mengetahui sejauh mana dampak suatu program pembangunan tercakup juga pelaksanaan pemantauan dan evaluasi secara terus-menerus. Agar dapat  memahami sejauh mana suatu program pembangunan telah dapat memberikan dampak yang berakibat keseimbangan sosial ekonomi dan ekosistem senantiasa lestari.

            Menurut Soeratmo (1998) dalam kenyataannya sering dijumpai dampak suatu aktivitas pembangunan proyek berdampak positif pada aspek sosial ekonomi, tetapi negatif pada aspek sosial budaya atau sebaliknya. Pentingnya suatu dampak sangat tergantung pada karakteristik masyarakat di daerah kegiatan pembangunan dilaksanakan dan karakteristik dari program itu sendiri. Hal ini penting mengingat setiap kelompok masyarakat memiliki ciri khas yang berbeda.

                Menurut Tarungmingkeng, (2002) perbedaan tingkat sosial ekonomi masyarakat nelayan sejak dahulu sampai sekarang secara turun-temurun tidak mengalami perubahan yang berarti. Kelas nelayan pemilik kapal sebagai juragan relatif kesejahteraannya lebih baik karena menguasai sumber daya penangkapan ikan yang baik seperti kapal, mesin alat tangkap maupun pendukung lainnya seperti es, garam, dan lainnya. Kelas lainnya yang merupakan mayoritas adalah nelayan pekerja atau menerima upah dari pemilik kapal (juragan) dan kalaupun mereka mengusahakan sendiri sumber daya penangkapan ikannya masih konvensional, sehingga produktifitasnya tidak berkembang, kelompok inilah yang terus berhadapan dan digeluti kemiskinan yang termasuk kepada mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)

 Aktivitas di Pelabuhan Perikanan

            Pelabuhan Perikanan yang telah dibangun sebaiknya dapat berfungsi secara optimal, agar sarana pelabuhan perikanan tersebut dapat digunakan untuk mengelola aktivitasnya yang meliputi proses pendaratan , penangganan, pengolahan, dan pemasarannya. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkakan pendapatan nelayan antara lain dengan meningkatkan produksi hasil tangkapannya. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi tersebut adalah dengan mengusahakan unit penangkapan produksi yang tinggi dalam jumlah dan hasil tangkapannya

  Pendaratan

            Aktivitas pendaratan ikan di pelabuhan perikanan meliputi proses pembongkaran, penyortiran, dan pengangkutan hasil tangkapan ke TPI. Aktivitas pendaratan hasil tangkapan di pelabuhan sangat bergantung pada kelengkapan fasilitas yang ada sehingga dapat memperlancar kapal-kapal perikanan untuk bertambat di pelabuhan guna melakukan bongkar muat hasil tangkapan dan mengisi pembekalan untuk melaut kembali.

  Penangganan

            Penangganan ikan segar dapat dilakukan dengan menggunakan es. Hal ini berguna ntuk mempertahankan mutu ikan agar daya tahan pemasarannya dapat lebih lama.

  Pengolahan

            Pengolahan terhadap hasil tangkapan dilakukan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu ikan dalam rangka menghindari kerugian dari pasca tangkap. Aktivitas pengolahan ikan hasil tangkapan di pelabuhan biasanya dilakukan pada saat musim ikan untuk menampung produksi perikanan yang tidak habis terjual dalam bentuk segar (Indrianto, 2006).

  Pemasaran

            Pemasaran adalah salah satu tindakan atau keputusan yang berhubungan  dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai konsumen ( Hanafiah dan Saefudin, 2002). Kegiatan pemasaran yang dilakukan disuatu pelabuhan bersifat lokal, nasional, maupun ekspor tergantung dari tipe pelabuhan tersebut.

 Penyaluran Pembekalan

            penjualan atau pengisian perbekalan yang berkaitan dengan fasilitas pelabuhan perikanan saat ini adalah es, penjualan air bersih, penyaluran BBM, dan suku cadang kapal.

           

 Hasil dan Pembahasan

 

Penyerapan Tenaga Kerja

            Pendapat berbagai kelompok masyarakat untuk berbagai kelompok mata pencaharian utama (nelayan. pedagang. buruh. pengolah dan petani) dalam hubungannya dengan dampak

pembangunan pelabuhan perikanan pantai Lempasing terhadap penyerapan tenaga kerja

dikemukakan pada Tabel 1. Tabel 1 memperlihatkan bahwa menurut seluruh responden yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat (nelayan. pedagang. pengolah. buruh dan petani) ternyata bahwa kuantitas nelayan yang melaksanakan usaha penangkapan ikan meningkat hingga 90.63% setelah adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan Pantai lempasing.

Tabel 1. Distribusi Persentase Pendapat Masyarakat Sekitar Pelabuhan Terhadap Adanya

Penyerapan Tenaga Kerja Sebagai Dampak Adanya Pembangunan Pelabuhan Perikanan

Pantai lempasing. Bandar lampung. 2004      

 

Kel. masyarakat

Persentase Pendapat Masyarakat (%)

Tidak mengetahui

Tidak berubah

Menurun

Meningkat

Kuantitas nelayan

Kuantitas pedagang

Kuantitas pengolah

Kuantitas buruh

Kuantitas petani

6.25

7,81

31,25

1,56

54,69

0.00

21.88

34.38

12.50

4.69

3.13

0,00

4,69

3.13

40.63

90.63

70.31

29.69

82.81

0.00

Sumber. Hasil Olahan Data Primer.2004

          Hal ini sejalan dengan hasil observasi yang menunjukkan berbagai jenis alat tangkap dan ukuran perahu kapal perikanan yang bersandar di pelabuhan perikanan pantai Lempasing ini. Hal ini juga sesuai dengan laporan yang dikemukakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pelabuhan Perikanan yang mengemukakan bahwa selama 2 tahun terakhir ini (2000 dan 2001), jumlah kapal perikanan yang bersandar dan jumlah nelayan yang menjual ikan hasil tangkapannya meningkat (Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Lampung, 2003).

Keseluruhan masyarakat nelayan responden juga mengemukakan bahwa sejak adanya

pembangunan pelabuhan perikanan ini semakin banyak jumlah nelayan yang melaksanakan

penangkapan ikan di wilayah Kota Bandar Lampung dan beberapa wilayah lainnya bersandar dan melaksanakan jual beli ikan hasil tangkapannya di pelabuhan ini. Hal ini juga sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan adanya pembangunan pelabuhan yaitu menampung kegiatan masyarakat perikanan baik ditinjau dari aspek produksi, pengolahan maupun pemasaran (Murdiyanto, 2003).

Responden juga menyatakan bahwa kuantitas pedagang yang bergerak dalam jual beli ikan meningkat hingga 70,31%. Menurut responden, meningkatnya jumlah pedagang antara lain disebabkan meningkatkan volume perdagangan ikan yang berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat maupun arus perdagangan ikan dari luar wilayah Propinsi Lampung ke wilayah Propinsi Lampung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lubis (2002) bahwa pembangunan pelabuhan perikanan tidak saja berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan, tempat berlabuh kapal perikanan dan tempat pendaratan ikan, melainkan juga berfungsi sebagai pusat pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan.

          Hasil observasi dan wawancara dengan para pedagang ikan menunjukkan bahwa ikan yang diperdagangkan di wilayah ini tidak hanya berasal dan dipasarkan dalam wilayah Kota Bandar Lampung, tetapi juga berasal dari luar daerah, antara lain berasal dari Sumatera Barat (Padang) dan Propinsi Banten (Pandeglang dan Cilegon). Oleh karena itu, setelah adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Lempasing, kuantitas buruh angkut ikan juga turut meningkat hingga 82,81%.

          Di lain pihak, kuantitas pengolah hanya meningkat sebesar 29,69%. Hal ini sesuai dengan hasil observasi dan wawancara dengan pedagang ikan yang menyatakan bahwa sebagian besar ikan yang diperdagangkan di sekitar pelabuhan perikanan pantai Lempasing berbentuk ikan segar yang diawetkan menggunakan es atau lemari pendingin yang langsung berfungsi dalam kendaraan pengangkut ikan (truk). Berbeda halnya dengan petani, responden menyatakan bahwa setelah adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan Lempasing, kuantitas petani tidak meningkat, bahkan menurun hingga 40,63%. Dalam hal ini, sebagian besar responden (54,69%) sebenarnya tidak mengetahui bagaimana kondisi kuantitas petani sehubungan dengan pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan di Lempasing·ini.

   Pendapatan Masyarakat Sekitar Pelabuhan

Rata-Rata tingkat pendapatan masyarakat sekitar pelabuhan perikanan untuk berbagai kelompok mata pencaharian utama (nelayan, pedagang, buruh, pengolah dan petani) dikemukakan pada Tabel 2. Tabel 2 memperlihatkan bahwa pendapatan masyarakat responden yang berada di sekitar pelabuhan perikanan pantai Lempasing meningkat. Artinya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Lempasing mempunyai dampak positif meningkatkan pendapatan masyarakat sekitarnya

            Tabel 2. Tingkat Pendapatan Masyarakat Sekitar Pelabuhan Perikanan Sebelum dan Setelah Adanya Pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing, Bandar Lampung, 2004

Kelompok Masyarakat

Pendapatan Rata-rata (Rplbulan)

Sebelum Adanya Pelabuhan

Setelah adanya Pelabuhan

Nelayan

Pedagang Ikan

Buruh Angkut Ikan

Pengolah Ikan

Petani

400.625

559.375

421.875

8.650.000

375.000

580.625

1.193.750

650.000

17.393.750

759.375

Sumber. Hasil Olahan Data Pnmer.2004

            Peningkatan pendapatan tersebut terjadi tidak hanya pada kelompok nelayan tetapi terjadi pada seluruh kelompok masyarakat yang berada di sekitar pelabuhan perikanan Lempasing. Hal ini juga berarti masyarakat nelayan yang memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan laut dan pesisir Lampung menggunakan fasilitas pelabuhan perikanan yang berada di Lempasing, Bandar Lampung. Peningkatan pendapatan terbesar terlihat pada kelompok masyarakat pengolah yang berada di sekitar pelabuhan perikarian pantai Lempasing, yang secara relatif diperlihatkan pada Tabel3.

            Tabel 3. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar Pelabuhan Perikanan Setelah Adanya Pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing, Bandar Lampung, 2004.

Kelompok Masyarakat

Peningkatan Pendapatan

Rupiah

%

Nelayan

Pedagang Ikan

Buruh Angkut Ikan

Pengolah Ikan

Petani

180.000

634.375

228.125

8.743.750

384.375

44,93

113,41

54,0

101,08

102,5

 

Sumber. Hasil Olahan Data Pnmer,2004

          Tabel 3 menunjukkan bahwa secara kuantitatif peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat pedagang ikan yaitu sebesar 113,41 %, yang kemudian diikuti dengan pendapatan pada kelompok masyarakat pengolah yang meningkat sebesar 101,08%. Hal ini dapat dikatakan sebagai dampak adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Lempasing yang mulai dibangun sejak 8 tahun yang lalu (pelabuhan perikanan dibangun dan mulai berfungsi sejak tahun1996).

          Secara deskriptif, dampak pembangunan pelabuhan perikanan yang diukur berdasarkan perbedaan pendapatan masyarakat sebelum dan setelah adanya pembangunan pelabuhan ini terlihat cukup nyata pada pendapatan pedagang ikan yaitu sebesar 113,41 %. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan para pedagang ikan yang mengemukakan bahwa sejak adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan pantai Lempasing, kegiatan bongkar muat dan perdagangan ikan meningkat secara drastis. Hal ini sesuai pula dengan fungsi dan peranan pelabuhan perikanan yang antara lain sebagai pus at pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan masyarakat nelayan (Murdiyanto, 2003).

          Peningkatan aktivitas bongkar muat dan perdagangan ikan terjadi untuk memenuhi kebutuhan pemasaran ikan baik secara lokal kota Bandar Lampung mapun luar wilayah Bandar Lampung, bahkan luar wilayah Propinsi Lampung. Pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan di wilayah Lampung berlangsung untuk memenuhi kebutuhan pasar di wilayah luar Lampung antara lain ke daerah tujuan OKI Jakarta (Muara Baru), Sumatera Barat (Padang), dan Banten (Cilegon dan Pandeglang) serta Sumatera Selatan (Palembang).

          Peningkatan pendapatan juga terjadi pad a kelompok masyarakat petani yang mencapai 102.50%. Petani responden dalam hal ini merupakan petani ladang yang mengusahakan (penggarap) tanah milik orang lain yang kondisi mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap selain bertani di ladang. Hasil wawaneara terhadap responden petani menyatakan bahwa sejak adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan ini mereka dapat bekerja sebagai buruh di sekitar pelabuhan perikanan. Pekejaan buruh tersebut antara lain sebagai pelaksana pembersih ikan pada proses pengolahan ikan. sebagai tukang kayu dan tukang bangunan rumah tinggal dan toko. dan dapat berburuh dalam pengangkutan ikan serta buruh bongkar muat pengangkutan ikan ke luar wilayah Bandar Lampung.

          Dari keseluruhan kelompok responden masyarakat sekitar pelabuhan perikanan pantai Lempasing tersebut terlihat pula bahwa masyarakat nelayan berada pada peningkatan pendapatan yang terendah dengan adanya pembangunan dan pengembangan pelabuhan yaitu hanya 44.93% selama 8 tahun. Hal ini antara lain banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan nelayan tersebut. Kemudian. tingkat harga jual ikan yang tidak banyak meningkat meskipun ada kegiatan dan Tampat Pelelangan Ikan di pelabuhan perikanan tersebut belum berfungsi sebagai stabilitor harga ikan hasil tangkapan nelayan.

          Hasil identifikasi menunjukkan pula bahwa pelelangan saat ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung dan nelayan terbagi menjadi beberapa kelompok dalam hubungannya dengan pelelangan ikan hasil tangkapannya.Kemudian uji rata-rata pendapatan per kelompok masyarakat pada masa sebelum dan sesudah adanya pembangunan pelabuhan juga menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat dampak pembangunan pelabuhan perikanan terhadap pendapatan masyarakat sekitarnya. Artinya. secara statistik dapat dijelaskan bahwa adanya perbedaan yang nyata pada pendapatan masyarakat sekitar pelabuhan tersebut (nelayan. pedagang. buruh, pengolah dan petani) antara sebelum dan sesudah adanya pembangunan pelabuhan merupakan dampa


 

 KESIMPULAN DAN SARAN

 

          Berbagai kelompok masyarakat berdasarkan mata pencaharian utama (nelayan, pedagang, buruh, pengolah dan petani) menyatakan bahwa pembangunan pelabuhan perikanan pantai Lempasing mempunyai dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitarnya. Dalam hubungannya dengan penyerapan tenaga kerja. kuantitas nelayan yang melaksanakan usaha penangkapan ikan meningkat hingga 90. 63 %. sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan adanya pembangunan pelabuhan. Begitu pula kuantitas pedagang ikan buruh angkut ikan dan pengolah masing-masing meningkat hingga.70.31%.  82.81%.  dan  29.69%.

          Peningkatan pendapatan terbesar tertihat pada kelompok masyarakat pedagang ikan yang mencapai 113.41%. Kemudian hal yang sama terjadi pada pendapatan pengolah. buruh angkut ikan dan petani yang dalam hal ini masing-masing meningkat sebesar 101.08%. 54.07%. dan 102.50%. Peningkatan pendapatan pada masyarakat nelayan terjadi dengan persentase yang paling keeil yaitu hanya 44.93% yang antara lain sebagai akibat tidak berfungsinya tempat pelelangan ikan sebagai stabilisator harga ikan hasil tangkapan nelayan.

          Secara statistik juga terdapat perbedaan yang sangat nyata antar kelompok masyarakat baik sebelum maupun sesudah adanya pembangunan pelabuhan perikanan. juga antara sebelum dan sesudah adanya pembangunan pelabuhan perikanan. Oleh karena itu. disarankan dalam rangka meningkatkan atau mempertahankan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyaraikat dlvsekitar pelabuhan perikanan terutama nelayan diperlukan peningkatan pelayanan dan peningkatan kesempatan masyarakat nelayan memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan. terutama tempat pelelangan ikan.

   

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s